Konsep Neo-Liberal Institutionalism

Posted: November 22, 2011 in partai politik, pemilihan presiden

oleh David Held[1]

 Dalam artikelnya yang berjudul The Principles of Effective Global Governance: Participation, Social Justice and Sustainability, David Held bersama Kevin Young menyatakan bahwa terdapat tiga masalah global yang harus segera diatasi bersama oleh negara-negara dan institusi internasional di dunia. Ketiga masalah tersebut yaitu:[2]

“… First, the serious challenges associated with the global financial system are examined through a focus on the need for stronger institutional governance capacity and participatory reform. Second, the shared global security environment is explored. The demonstrable failure of unilateralism and the recognition of the need for security in a much broader sense – security from poverty, disease, and joblessness – call for a security agenda that places social justice at its core. Third, the threat to the natural environment posed by climate change and the inadequacy of the current efforts to manage climate change are set out”.

(… Pertama, tantangan serius yang terkait dengan sistem keuangan global yang fokusnya pada perlu adanya pemerintahan oleh institusi yang kuat dan reformasi partisipatoris. Kedua, pembagian lingkungan keamanan global yang perlu diselidiki. Kegagalan yang dapat dibuktikan atas unitelarisme dan diakuinya kebutuhan atas keamanan yang lebih luas – keamanan dari kemiskinan, penyakit dan pengangguran – mengarah pada sebuah agenda keamanan yang menempatkan keadilan sosial sebagai intinya. Ketiga, ancaman terhadap lingkungan alami yang disebabkan oleh perubahan iklim dan kurangnya upaya yang ada saat ini untuk menangani perubahan iklim)

Menurut Held politik dunia saat ini telah mengalami pergeseran. Dengan kegagalan unilateralisme dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat, ketidakpastian atas peran Uni Eropa dalam urusan global, kebuntuan perundingan perdagangan global dan yang terburuk bencana keuangan internasional di dunia telah yang terjadi dalam 80 tahun terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa sangat tidak mungkin tatanan multilateral dapat bertahan lebih lama lagi dalam bentuk yang sekarang, dan kemungkinan konfigurasi baru sedang diciptakan.[3]

Lebih lanjut Held dan Young berpendapat bahwa Meningkatnya berbagai isu global yang terjadi beberapa dekade terakhir kurang ditangani dengan baik. Kemiskinan dan ketidaksetaraan global telah berada pada tingkat yang mengkhawatirkan; krisis kemanusiaan mewabah pada jutaan orang; kerusakan lingkungan yang luas semakin mempersempit kesempatan hidup di berbagai belahan dunia, dan kemampuan ekosistem untuk mempertahankan energi patut untuk dipertanyakan. Ditambah lagi munculnya krisis keuangan dalam bentuk merosotnya perekonomian seluruh negara di dunia dalam segala bidang ekonomi beberapa dekade terakhir semakin menunjukkan bahwa ada sesuatu yang salah dalam tatanan dunia dan harus segera diperbaiki. Serta kondisi keamanan dunia serta pengakuan atas hak-hak negara dan masyarakatnya yang kian mengkhawatirkan.[4]

Berbagai tantangan global tersebut merupakan indikasi dari tiga lapisan masalah yang dihadapi dunia, yaitu pertama, yang terkait dengan permasalahan planet kita (seperti perubahan iklim, merosotnya keanekaragaman hayati dan ekosistem serta defisit air), kedua, terkait dengan permasalahan mempertahankan kesempatan hidup (seperti pencegahan perang dan konflik, kemiskinan serta penyakit global) dan ketiga, yang terkait dengan permasalahan peraturan yang mengatur hubungan antar negara (seperti peraturan keuangan dan perpajakan, peraturan perdagangan dan hak kekayaan intelektual).[5]

Held melanjutkan bahwa dalam dunia kita dimana tiap negara memiliki hubungan dengan negara lainnya, masalah-masalah global tersebut tidak dapat diselesaikan oleh salah satu negara atau bangsa saja. Perlu adanya tindakan kolektif dan kolaboratif.[6]

Berbagai kebijakan yang sebagian besar mengatur agenda global dalam beberapa dekade terakhir, baik di bidang ekonomi maupun keamanan telah gagal. Konsensus Washington yang sempit serta doktrin keamanan Washington (atau fundamentalisme pasar dan unitelarisme) seakan telah membuat mereka menggali kubur sendiri. Sebagian besar negara yang suskes dalam pembangunannya di dunia (diantaranya China, India, Vietnam dan Uganda) disebabkan karena mereka tidak mengikuti agenda Konsensus Washington. Dan sebagian besar pula negara yang sukses mengatasi konflik (diantaranya negara-negara Balkan, Sierra Leone  dan Liberia) disebabkan karena mereka mendapat keuntungan dari dukungan multilateralisme dan agenda keamanan manusia. Hal ini menunjukkan bahwa perlu ada perubahan dalam menghadapi masa depan yang lebih baik. Untuk maju efektivitas dab akuntabilitas tatanan multilateralisme haruslah belajar dari kesalahan-kesalahan tersebut. Perlunya perubahan yang mendasar adalah hal yang harus segera dilaksanakan. Baru-baru ini pertemuan G20 di Washington serta konferensi perubahan iklim PBB di Ponzan dilambangkan sebagai pengakuan bahwa perlu ditingkatkannya proses reformasi.[7]

Dalam artikelnya tersebut Held dan Young menunjukkan berbagai solusi terkait berbagai masalah global terutama terkait dengan masalah krisis keuangan, perubahan iklim dan keamanan dunia. Namun, terkait hal ini penulis hanya akan memaparkan solusi untuk mengatasi masalah global yang terkait dengan keamanan dunia. Hal tersebut didasarkan atas masalah tersebut terkait dengan bahasan tulisan ini yaitu tentang reformasi DK-PBB.[8]

Terkait dengan masalah keamanan global Held dan Young menggambarkannya solusinya dalam bagan berikut:

Bagan 1.1 Solusi Penanganan Masalah Keamanan Global Menurut David Held dan Kevin Young

 

Sumber :       David Held dan Kevin Young. “The Principles of Effective Global Governance: Participation, Social Justice and Sustainability” dalam http://www.feps-europe.eu/fileadmin/downloads/globalisation/0902_ FEPS_HeldYoung.pdf, diakses tanggal 2 Maret 2010.

Dalam bagan 1.1 Held dan Young memaparkan bahwa terdapat lima hal yang dapat dijadikan solusi dalam mengatasi masalah keamanan dunia. Pertama, memperluas konsep ketidakamanan manusia (human insecurity). Hal ini dimaksudkan bahwa saat ini setiap manusia berada dalam keadaan yang tidak aman. Kesempatan hidup semakin tipis sejalan dengan berbagai masalah keamanan yang muncul, seperti konflik, perang, nuklir, senjata pemusnah massal serta munculnya berbagai penyakit yang persebarannya mengancam seluruh penduduk global. Kesadaran atas konsep human insecurity ini akan memunculkan tindakan dari masing-masing pihak untuk meminimalisir ancaman yang muncul.[9]

Kedua, menghubungkan kembali agenda keamanan dan hak asasi manusia dalam hukum internasional. Saat ini, berbagai hukum internasional yang bersinggungan dengan masalah keamanan dan hak asasi manusia memang sudah ada. Namun, dalam pelaksanaannya kerap kali tidak diterapkan dengan adil. Hukum tersebut hanya berlaku bagi negara-negara kuat dan memiliki pengaruh besar dalam perpolitikan dunia.[10]

Ketiga, mengimplementasikan Millenium Development Goals (MDG) yang telah dirumuskan dalam PBB. Saat ini implementasi dari MDG tidak berjalan dengan baik. Kesejahteraan serta kemakmuran bersama hanya dirasakan oleh negara-negara kuat yang mendominasi sistem politik dunia. Artinya harus ada perubahan yang signifikan dalam pelaksanaan MDG, yaitu dengan lebih mengutamakan negara-negara dengan peran kecil dalam politik dunia namun memiliki tingkat kesejahteraan yang rendah. PBB harus melindungi negara-negara tersebut dari ancaman negara-negara kuat.[11]

Keempat, mereformasi DK-PBB untuk meningkatkan manajemen otorisasi dan kemanusiaan dalam intervensi senjata. Hal ini memiliki tujuan untuk mengatur kempemilikan persenjataan (tradisional maupun modern) oleh masing-masing negara agar tidak menjadi ancaman bagi kedamaian dunia. Saat ini DK-PBB cenderung pilih kasih terkait persenjataan ini. Contoh sederhana adalah kepemilikan nuklir oleh Amerika Serikat dan Iran. Amerika Serikat hampir tidak pernah dilarang dalam pengembangan nuklirnya. Namun tidak demikian dengan Iran yang selalu di awasi penuh oleh IAEA.[12]

Dan kelima adalah merubah komposisi DK-PBB untuk memperpanjang perwakilan untuk semua daerah di dunia. Komposisi DK-PBB yang ada saat ini oleh Held dianggap sangat tidak representatif. Komposisi DK-PBB saat ini tidak mewakili seluruh anggota PBB. Bahkan tidak dapat mengakomodir setiap permasalahan yang muncul di dunia. Held menambahkan bahwa kondisi geopolitik saat ini sangatlah berbeda jauh dengan masa Perang Dunia I atau II. Sehingga seharusnya komposisi DK-PBB tidak seperti yang ada saat ini. Oleh karenanya DK-PBB haruslah segera direstrukturisasi.[13]

Menurut Held harus ada perubahan mendasar dalam komposisi DK-PBB. Yaitu dengan penambahan jumlah anggota DK-PBB, baik anggota tetap ataupun anggota tidak tetap. Hal ini didasarkan atas kenyataan bahwa komposisi DK-PBB saat ini tidak lagi relevan dengan jumlah anggota PBB, sehingga menyebabkan keterwakilan negara-negara anggota PBB tidak terakomodir dengan baik. Lebih lanjut menyebutkan bahwa perubahan lainnya adalah dalam perubahan kewenangan yang dimiliki oleh DK-PBB.[14]

Held menambahkan bahwa pelaksanaan agenda keamanan, negara berserta institusi internasional setidaknya melakukan tiga hal. Pertama, harus ada komitmen terhadap supremasi hukum dan pengembangan lembaga multilateral – bukan pelaksanaan perang yang dilakukan sebagai respon pertama dalam menghadapi konflik. Bila keadilan tidak memihak, maka tidak akan ada kekuatan yang dengan arogan berusaha mengontrol dunia, berani mengambil resiko melawan hukum dan bertindak tidak adil. Yang dibutuhkan adalah momentum atas keadilan global, bukan Amerika Serikat atau Rusia atau China atau Britania Raya atau Perancis. Kedua, upaya yang berkelanjutan harus dilakukan untuk menghasilkan bentuk-bentuk baru legitimasi politik global bagi institusi-institusi internasional yang terlibat dalam terciptanya keamanan dan perdamaian dunia. Hal tersebut mencakup hukuman atas pelanggaran hak asasi manusia yang sistematis dan dimanapun hal itu terjadi serta pembentukan tipe ekonomi politik baru dan akuntabilitas. Hal tersebut bukan berarti salah satu pihak mengambil momentum untuk menjadi pahlawan bagi perdamaian dan perlindungan hak asasi manusia. Dan akhirnya harus ada polarisasi global atas kemakmuran, pendapatan dan kekuasaan yang berhubungan langsung dengan kesempatan hidup.[15]

Kesimpulannya adalah bahwa perlu adanya perubahan cara pandang yang signifikan dalam upaya untuk mengatasi berbagai masalah tersebut. Sebagai seorang institutionalis, Held beranggapan bahwa institusi internasional memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan perubahan tersebut.

Held berasumsi bahwa berbagai institusi internasional saat ini (terutama PBB) berada pada kondisi yang sangat tidak ideal. Institusi internasional tidak lagi menjadi representasi dari berbagai kepentingan negara-negara anggotanya. Institusi internasional saat ini cenderung menjadi kepanjangan tangan dari negara-negara dengan power besar. Oleh karenanya, menurut Held, sebelum dilakukan perubahan atas cara pandang dalam mengatasi permasalahan global maka institusi internasional harus melakukan perubahan sebagai langkah awal.[16]


[1] David Held merupakan seorang teoritis asal Britania Raya dan merupakan tokoh penting dalam studi hubungan internasional. Bersama Daniele Archibugi, dia merupakan tokoh kunci dalam pengembangan kosmopolitanisme khususnya demokrasi kosmopolitan. Kajiannya berada dalam studi globalisasi dan pemerintahan global. Karyanya antara lain “Cultural Politics in Global Age: Uncertainty, Solidarity, and Innovation” dan “Globalization theory : approaches and controversies”.

[2] David Held dan Kevin Young. “The Principles of Effective Global Governance: Participation, Social Justice and Sustainability” dalam http://www.feps-europe.eu/fileadmin/downloads/globalisation/0902_FEPS_HeldYoung.pdf diakses tanggal 2 Maret 2010.

[3] Ibid.

[4] Ibid.

[5] Ibid.

[6] Ibid.

[7] Ibid.

[8] Ibid.

[9] Ibid.

[10] Ibid.

[11] Ibid.

[12] Ibid.

[13] Ibid.

[14] Ibid.

[15] Ibid.

[16] Ibid.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s