Konstruktifis

Posted: November 30, 2011 in Konstruktivis

oleh Nicholas Onuf

Menurut Onuf, konstruktivis berkisar pada tiga konsep yang saling terkait, yaitu speech act, perbuatan, dan rules.[1] Dasar pemikiran Onuf menyatakan bahwa manusia membangun realita melalui perbuatan mereka, yang bisa berupa tindakan nyata atau dalam bentuk speech act. Pada gilirannya, setelah dilakukan berulang kali, perbuatan tersebut akan membentuk rules yang menjadi konteks dan dasar untuk memaknai perilaku manusia. Dunia merupakan hasil konstruksi para aktor. Dengan kata lain, dunia sosial sangat beragam karena dibentuk oleh aktor dan struktur yang berbeda-beda pula.[2]

Aktor membentuk hubungan sosial dan hubungan sosial membentuk aktor. Hal ini merupakan dua proses yang berkesinambungan dan sikap aktor akan memiliki “makna” karena hubungan sosial yang dimiliki. Oleh karena itu, untuk mengkaji pola ini, Onuf menawarkan elemen ketiga yang selalu berkaitan dengan kedua elemen di atas, yaitu rules. Rules merupakan pernyataan tentang apa yang seharusnya  kita lakukan. Apa merupakan bentuk standar bagi perilaku aktor pada situasi-situasi yang bisa diketahui serupa dan bisa dilakukan. Seharusnya adalah menuntun penyesuaian perilaku dengan standar tersebut. Adanya rules memungkinkan terciptanya pemaknaan bersama.[3] Dengan kata lain, jika aktor tidak memahami apa maksud yang terkandung dalam rules, maka aktor bisa “meraba-rabanya” dengan memperhatikan perilaku aktor lain yang ada di dalam hubungan sosial yang sama. Hanya dengan mengamati apa yang dilakukan setiap aktor, aktor lain akan tahu apa yang sebenarnya disampaikan oleh rules.

Rules memberikan pilihan-pilihan pada aktor-aktor yang terlibat di dalamnya (agents). Pilihan yang paling mendasar adalah: mengikuti rules atau tidak. Rules menjadi petunjuk bagi sikap aktor sehingga memungkinkan terciptanya kesepahaman bersama mengenai suatu tindakan yang tepat. Dalam proses menentukan pilihan aktor, rules memberi peluang kepada agents untuk mempengaruhi rules karena: (1) setiap kali agents memilih untuk mengikuti rules, mereka akan mempengaruhi dengan memperkuat rules tersebut, sehingga mereka dan yang lain akan mengikuti rules tersebut; dan (2) setiap kali agents memilih untuk tidak mengikuti rules, maka mereka akan mempengaruhi rules dengan memperlemahnya, dari kondisi ini, tidak menutup kemungkinan munculnya rules baru.[4]

Rules merupakan kunci utama pemikiran Onuf mengenai politik. Menurut Onuf, masyarakat politik memiliki dua ciri umum yaitu: (1) selalu ada rules yang membuat perilaku aktor menjadi bermakna, dan (2) rules selalu memunculkan ketimpangan keuntungan antar aktor. Dengan demikian, rules selalu berkaitan dengan keunggulan dan hal-hal yang bersifat normatif. Hubungan sosial didasarkan pada rules; politik selalu membentuk hubungan sosial asimetrik yang terbentuk karena rules. Yang terpenting bahwa apa yang dilakukan aktor tidak selalu ditautkan dengan adanya rules; tindakan tersebut juga bisa membentuk rules, yang lebih umum lagi, bisa membentuk dunia, dan melalui rules memungkinkan terciptanya pemahaman bersama yang bersifat normatif.

Masih terkait dengan konstruksi sosial, Onuf menekankan pentingnya speech acts. Speech acts merupakan sebuah bentuk tindakan berbicara (speech) agar orang lain bertindak (act). Onuf menyatakan bahwa speech acts merupakan bentuk performa sosial yang memiliki konsekuensi sosial secara langsung. Salah satu bentuk umum dari speech acts misalnya: dengan ini saya (kami, kita dan lain-lain) menyatakan/meminta/berjanji kepada semua yang mendengarkan bahwa hubungan antarnegara ada atau dapat dilakukan. Aktor lain akan merespon speech acts tersebut dengan cara mereka sendiri, tidak selalu dengan ucapan. Pola antara speech acts dan respon merupakan sebuah praktik yang membuat kondisi-kondisi material dari pengalaman tiap aktor mejadi bermakna. Lebih spesifik lagi, pola speech acts akan memberikan suatu bentuk normatif terhadap praktik sang aktor.[5] Oleh karena itu, bentuk speech acts akan membentuk sebuah norma bagi perilaku aktor.

            Onuf memberikan tiga bentuk speech acts yaitu: asertif, direktif, dan komisif. Asertif merupakan pernyataan mengenai suatu kepercayaan, dimana sang aktor mengharapkan audience menerimanya. Direktif merupakan sikap dimana sang aktor mengharapkan audiences melakukan hal yang sama. Sedangkan komisif merupakan sebuah pernyataan mengenai komitmen aktor terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang. Oleh karena itu, bentuk asertif akan menghasilkan rules bagi speakers, sedangkan direktif dan komisif berusaha menanamkan rules kepada audience.[6] Dengan demikian, munculnya norms tidak hanya tergantung pada tindakan nyata para aktor terhadap rules, tetapi juga pada speech acts aktor.


[1] Maja Zehfuss, Constructivism in International Relations: the Politics of Reality, (Cambridge University Press, Cambridge, 2000) hal.151

[2] Ibid.

[3] Ibid. hal. 151 – 152.

[4] Ibid., hal.152.

[5] Ibid. hal.153

[6] Ibid. hal.154

[7] Penjabaran tentang life-cycle of norms, penulis sadur dari artikel Martha Finnemore dan Kathrin Sikkink yang berjudul International Norm Dynamics and Political Change dalam International Organization 52, hal. 887 – 917.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s