Localization

Posted: November 30, 2011 in norma

oleh Amitav Archarya

Acharya mengajukan pemikiran mengenai penyebaran norma-norma internasional dan bagaimana negara dunia ketiga mengadopsi norma-norma tersebut. Masalah penyebaran norma dalam politik dunia tidak hanya mengenai apakah dan bagaimana ide itu muncul, tapi juga terkait dengan ide yang mana dan ide siapa. Para ahli konstruktivis mengenai norma cenderung fokus pada masalah transformasi moral, bagaimana norma global yang “baik” lebih bisa diadopsi daripada sikap dan kepercayaan lokal yang “buruk”.

Acharya memfokuskan kajiannya pada localization. Menurutnya, localization merupakan sebuah konstruksi aktif (melalui wacana, pembingkaian, grafting dan pemilihan budaya) dari ide-ide internasional oleh aktor lokal, yang disebabkan oleh upaya membentuk kesesuaian yang signifikan dengan kepercayaan dan praktik lokal.  Dari pengertian tersebut, pertanyaan yang muncul adalah mengapa aktor lokal me-localize norma-norma internasional. Menurut Amitav, ada beberapa faktor mengapa aktor lokal melakukan localization terhadap norma-norma internansional. Pertama, karena adanya keyakinan dari aktor lokal bahwa norma-norma tersebut bisa digunakan untuk meningkatkan legitimasi dan kewenangan terkait dengan eksistensi mereka, tapi tanpa mengubah identitas sosial mereka yang sudah ada. Dalam tulisannya yang berjudul “How Ideas Spread: Whose Norms Matter? Norm Localization and Institutional Change in Asian Regionalism”, dengan merujuk pada pandangan Cortell dan Davis, Amitav menegaskan bahwa aktor menggunakan rules dalam dunia internasional untuk membenarkan tindakan mereka dan melegitimasi eksistensi mereka.

Alasan kedua adalah kekuatan norma-norma lokal sebelumnya. Beberapa norma lokal merupakan suatu asas kelompok. Norma-norma tersebut bisa saja berasal dari budaya dan praktik yang sudah berurat ada atau bisa saja dari norma-norma internasional yang telah dilegalkan dalam dokumen internasional. Dalam satu kondisi, norma telah menjadi bagian integral dari identitas lokal, dimana norma-norma tersebut telah membentuk identitas dan kepentingang aktor, dan tidak serta merta membentuk perilaku aktor. Semakin kuat local norms, maka semakin besar kemungkinan terjadinya localization terhadap norma internasional baru.

Alasan ketiga adalah adanya aktor yang memiliki kredibilitas dengan pengaruh yang cukup untuk melakukan penyesuaian dengan norma-norma yang berlaku pada tingkat global. Kredibilitas aktor lokal bergantung pada konteks sosial dan kedudukan mereka. Para pelaksana norma lokal nampaknya akan menjadi lebih kredibel jika sang audiences menganggap mereka sebagai penegak nilai-nilai dan identitas lokal bukan sebagai agents yang mendapatkan tekanan dari pihak lain, serta sebagai bagian dari komunitas epistemik lokal yang bisa melakukan klaim atas keberhasilan-keberhasilan dalam perdebatan normativ. Alasan keempat lebih terletak pada perasaan identitas yang dimiliki norm-takers yang menempatkan localization, khususnya ketika mereka memiliki perkembangan yang unik dalam hal nilai-nilai dan interaksi mereka. Sehingga memunculkan kondisi dimana aktor lokal mau tidak mau mengadopsi norma internasional secara keseluruhan dan harus mengembangkan sebuah kebiasaan terhadap norma internasional tersebut.

Gambar 1.1 Respon terhadap Norma Transnasional

Sumber: Amitav Archarya, How Ideas Spread: Whose Norms Matter? Norm Localization and Institutional Change in Asian Regionalism, dalam International Organization 58, 2004, hal. 254

Gambar 1.1 menunjukkan tiga bentuk utama dari respon lokal terhadap norma transnasional. Yang pertama adalah resistance, tidak ada tugas dan instrumen baru yang dibuat, target norm[1] dan istitusi yang ada masih tetap dipertahankan. Jika terlalu banyak bentuk resisten, maka akan berpotensi terhadap gagalnya transmisi norma. Respon kedua yaitu localization yang ditandai dengan adanya respon dari institusi yang ada terhadap ide internasional baik secara fungsional atau dengan perluasan anggota dan membuat instrumen kebijakan baru untuk mengejar tugas atau tujuan barunya tanpa mengubah tujuan semula. Norm hierarchy[2] masih ada dan tidak dirubah. Pada respon kedua ini, institusi yang ada masih dipertahankan, meskipun ada kemungkinan munculnya institusi baru yang menyerupai institusi yang ada. Respon ketiga adalah norm displacement. Pada bentuk respon ini, ada tugas dan instrumen baru yang dibentuk, target norm dan norm hierarchy tidak lagi dipertahankan. Bagian ini juga ditandai dengan munculnya institusi baru yang sama sekali berbeda dengan institusi sebelumnya atau berubahnya institusi yang ada secara signifikan sehingga terlihat berbeda dari karakter sebelumnya.


[1] Target norm merupakan norma yang lebih terdahulu muncul yang ingin “dilemahkan” atau bahkan ditiadakan oleh norm enterpreneur.

[2] Norm hierarchy merupakan target norm yang menonjol dalam hubungannya dengan core norms lainnya di dalam institusi terkait.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s